Di Sebalik Wajah Kepala Bergetar

Di Sebalik Wajah Kepala Bergetar.


Ilustrasi: Studio pekeramik Petr Sladek di Cesky Krumlov

|



Zen Hae

Petr,

Inilah mimpiku tentang neraka. Sebentang jembatan kecil-panjang dengan kobaran api dari jurang yang seakan tak ada dasarnya. Tebingnya memerah. Udara panas membuat segalanya bergetar dan seperti terlihat dari lensa kamera yang tidak fokus–kecuali sosok-sosok manusia telanjang itu.

Mereka melintasi jembatan itu demi segala yang kelak abadi: nikmat dan siksa. Ada yang selamat hingga ke seberang, ada yang jatuh dan menjerit-jerit.

Aku terbangun dengan hawa panas yang membakar wajahku.

Namun, neraka dalam mimpiku itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilku. Dahulu sekali aku pernah membaca buku cerita bergambar berjudul
Siksa Neraka. Bukan buku cerita, sebenarnya. Tidak ada cerita yang mengalir di sana, yang ada hanyalah semacam “daftar siksaan” yang akan dialami oleh para penghuni neraka–sebagai bandingan atas “senarai kenikmatan” para penghuni sorga.

Pada bagian awal buku itu menyebutkan bagaimana orang-orang yang berdosa di dunia dan gagal melintasi jembatan itu akhirnya dilumat api. Dan di neraka dengan bermacam-macam nama dan tingkat kepedihan siksanya itu ada manusia yang disetrika punggungnya, ada yang diberi minum timah panas, disodok duburnya dengan linggis api, digunting lidahnya, dihantam kepalanya dengan gada berduri atau diadu seperti dua ekor jangkrik.

Setelah penyiksaan mahahebat itu wujud mereka akan dipulihkan untuk disiksa kembali. Begitu seterusnya.

Di negeriku, tempat orang merasa beragama jauh lebih penting dari perkara apa pun di dunia ini, neraka jarang sekali menjadi tema karya seni. Imajinasi kami tentang neraka seperti telah dipatenkan oleh buku cerita itu, yang entah dari mana sumbernya. Kitab Suci, mungkin.

Sangat bisa jadi kengerian yang sengaja dilebih-lebihkan -pula bagaimana mereka menamai jembatan itu dengan sangat hiperbolis “titian serambut dibelah tujuh”- itu agar kami, anak-anak yang masih murni, tidak terjatuh ke lembah dosa dan masuk neraka kelak. Tapi ketika itu kami percaya bahwa dengan menghafal sejumlah doa yang diajarkan oleh guru mengaji kami, kami akan terbebas dari jilatan api neraka. Sekarang, aku sudah lupa doa-doa itu.

Di studiomu , yang mirip rumah tukang sihir, aku menemukan rupa neraka. Tentu saja, dengan sebutan ini, aku telah melebih-lebihkannya. Sebab jika tidak, aku juga tidak akan pernah menulis surat ini kepadamu.

Kita membutuhkan keajaiban agar banalitas dan rutinitas bisa didongkel dan segera dikirim ke krematorium di Motol, Praha. Kita tidak memerlukan lagi kesederhanaan baru dan hiperrealisme toh?

Ya, di studiomu segalanya tampak merah oleh tanah liat. Bahkan, debu merah-kecokelatan menebal pada kaca dan pakaianmu. Hawa dari pemanas di pojok ruangan menggenang bersama bau lempung basah dan aroma dedaun busuk yang menerobos dari celah kusen jendela.

Cetakan-cetakan tubuh manusia berukuran kecil bergeletakan di atas meja. Model kepala dan badan manusia yang hampir kering berjejer di antara botol-botol bir kosong, mistar, ember dan pulsate. Atau, kadang-kadang diam sendirian di tepi meja.

Chaos
itu penting buatku,” kau berhujah.

Studiomu juga seperti rumah liliput; neraka klaustrofobik untuk orang berperawakan raksasa sepertimu. Tengoklah, hasil cetakan tubuh dan kepala manusia itu tidak lebih besar dari lenganmu.

Kau sengaja menciptakan ketimpangan ukuran antara sosok-sosok mungil dan perabotan kerjamu yang seperti terkena efek Margritte. Aku jadi teringat film seri yang kutonton di TVRI setiap Minggu siang dulu,
Land of the Giants.

Di luar, matahari seperti kepiting, melipir dari kiri ke kanan, ke sebalik hutan. “Di bukit itu dulu banyak ditanam kentang, kini sudah berganti dengan rumah-rumah,” kau berkata.

“Seperti di kampungku,” kujawab kau kini. “Orang-orang menjual tanah, membangun kontrakan dan membeli motor. Lalu mereka naik haji dan kepingin masuk sorga lebih awal.”

Namun, di sorga tidak ada penciptaan lagi, bukan? Konon, para penghuninya akan tetap muda dan boleh berbaring bertelekan di tepi sungai susu sesuka hati mereka. Buah-buahan bisa dipetik sembari tiduran. Perempuan-perempuan bermata jeli, dengan bulu mata yang melengkung seperti kail, bisa didatangi kapan saja. Kenikmatan tanpa batas. Tanpa kerja. Itu membosankan.

Lantas kau mengambil salah satu model kepala manusia yang hampir kering dan tiba-tiba memukulkannya ke telapak tanganmu. Kepala itu penyok, hidung dan matanya melesak ke samping. Kau tersenyum.

“Jika aku bosan dengan bentuk yang sempurna, atau bentuk yang itu-itu saja, aku melakukan ini dan kudapat bentuk yang baru dan tak terduga. Itulah kreativitas,” kau berujar.

Kadang-kadang tindakan itu kaulakukan karena alasan kecelakaan. Misalnya, lempung yang telah kaucetak tiba-tiba jatuh ke lantai. Tubuh bakal-keramik itu gepeng, batok kepalanya penyok dan retak. Kau membiarkan yang tidak-sempurna itu sebagai bagian dari yang sempurna dan kelak menuai puja-puji. Sesungguhnya, kecelakaan itu mengantarkanmu untuk menghindari kesempurnaan sebagaimana citra umum patung-patung Yunani yang pernah kaupelajari di sekolah dulu.

Para kritikus seni rupa di negeriku, yang serupa juru khotbah itu, gemar sekali menggunakan kata “pemiuhan” -kata lain untuk
deformation-
untuk segala bentuk yang menyimpang dari kesempurnaan citra ilahiah.

Sejatinya, kau memang tidak menyukai kesempurnaan. Patung-patung manusia yang kaubuat jauh dari rupa sempurna. Barik-barik kasar pada wajah, rambut, otot. . . . Kau seperti tidak telaten dengan perincian bentuk yang hiperrealistis. Anatomi mereka seperti tengah meledek kemahakuasaan Sang Pencipta. Tapi siapakah Ia di sebuah negeri yang selama 41 tahun dikuasai rezim komunisme?

Aku jadi ingat pameran retrospektif Pavel Brazda di Egon Schiele Art Centrum yang kukunjungi pada pekan terakhir masa tinggalku di Cesky Krumlov. Brazda adalah perupa yang tidak memuliakan keindahan.

Wajah-wajah manusia dalam lukisannya selalu berada dalam situasi bahaya. Jika tidak dengan mata yang selalu melotot, maka sosok-sosok itu terancam oleh distopia yang samar-samar mencengkeram mereka. Ia bukan hanya memiuhkan apa-apa yang normal dalam pandangan mata kita, tetapi juga menjadikan yang grotesk sebagai salah satu kekuatan karya-karyanya.

Tiga yang paling membetot perhatianku adalah
5 Minutes Before the Stop of the World
(1945-1966),
Did Yous Forget to Shave?
(1950) dan
The Monster Is Waiting, the Monster has Time
(1950).

Rupa grotesk, situasi apokaliptik, surrealisme yang menjangkau alam mimpi itu mengingatkan aku kepada lukisan-lukisan tiga-panel karya Hieronymush Bosch (The Concluding Jugement, The Garden of Earhtly Delights
dan
The Haywin Triptych
). Juga
Pesta Pencuri
Tisna Sanjaya.

Situasi karnaval, apa pun ada di situ, kacau sekaligus tertib, desak-mendesak tapi juga asyik sendiri, seperti bayangan neraka atau hari kiamat. Sementara segala yang desak-medesak dalam lukisan tradisional Bali selalu menyejukkan mata dan hati para pemuja citra Hindia Molek.

Kau mungkin tidak mencipta dalam bayang-bayang mimpi buruk, tapi dalam bayang-bayang cengkeraman politik, dalam distopia yang dialami Brazda sebelumnya. Karya-karya terbaik Brazda, bagiku, yang terbaik adalah pada masa akhir 1940-an dan sepanjang 1950-an–masa-masa sulit untuk seniman bebas yang memilih tidak berpartai atau tunduk di bawah garis komando komunisme. Meski kau tidak merasa perlu berpolitik, toh akhirnya kau bersikap juga.

“Aku dan kawan-kawan generasiku tumbuh dalam situasi politik yang sama. Jika harus memilih, aku memilih di jalur kiri (persone di sinistra). Semua seniman pastilah memilih itu,” kau berhujah lagi.

Cesky Krumlov adalah kota kecil dengan keindahan tidak bisa disangkal hingga tujuh turunan. Tetapi kau menanggapi semua itu dari sisi yang lain, itulah cara negatif dalam mencerap keindahan. Yang muncul dalam karya-karyamu adalah hal yang serba-tidak-indah dari kota yang-serba-indah. Tugas seni sebagai abdi setia keindahan sudah berakhir lama dan kau memperpanjang masa itu hingga hari ini.

Petr,

Jika kaubaca suratku ini, aku sudah tidak ada lagi di sana, di sebuah apartemen tua yang menghadap sungai dan bukit, dengan salju tipis yang sempat menutupi atap, pepohonan dan rumputan.

Aku telah menyimpan segala yang indah di kotamu pada jurang mataku. Tetapi sehimpun keharuan otentik ini ternyata tidak mendorongku untuk menulis tentang yang indah dan melenakan mata. Aku seperti tengah memusuhi segala keindahan.

Itulah kenapa aku bermimpi tentang neraka, yang membuat aku terjaga dini hari dan mengingat ayahku.

Salam untuk Dominika.

ZH

Di Sebalik Wajah Kepala Bergetar

Source: https://beritagar.id/artikel/telatah/di-rumah-tukang-sihir

Artikel Terkait

Leave a Comment