Mengapa Bentuk Wajah Bulan Sangat Tidak Sama

Mengapa Bentuk Wajah Bulan Sangat Tidak Sama.

Saat menjelang malam tiba, Bulan akan menampakan sinarnya di tengah cuaca di langit yang cerah. Disadari atau tidak, bentuk Bulan saat menampakan dirinya tidak selalu bulat, ada kalanya berbentuk sabit atau hanya setengah bulat saja. Namun ada kalanya lagi warna yang terpendar juga mengalami fase perubahan.  lalu, apa sebenarnya fenomena tersebut?

Langit memang memberikan perubahan fenomena yang patut untuk dipelajari amaupun diperhatikan. Karena memang keindahannya mampu meluluhkan jiwa. Namun ada kalanya fenomena yang terjadi merupakan rahasia alam yang belum terpecahkan.

Sebagaimana diketahui bersama, Bulan adalah satelit alami yang dimiliki bumi. Cahaya bulan yang terlihat pada malam hari, sebenarnya berasal dari cahaya matahari. Cahaya ini kemudian dipantulkan kembali oleh permukaan bulanBulan adalah benda langit yang mengorbit Bumi. Karena sumber cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi adalah pantulan sinar Matahari, bentuk Bulan yang terlihat dari Bumi akan berubah-ubah. Perubahan bentuk Bulan yang tampak dari Bumi ini disebut dengan fase-fase Bulan.

Fase bagaimana bentuk bulan terlihat dari bumi ada delapan. Pertama, bulan baru, yaitu bulan tidak menerima cahaya dari matahari dan tak terlihat dari bumi. Kedua, bulan sabit muda, kurang dari setengah bulan terlihat, seperti sabit. Fase ketiga ditandai setengah dari bulan terlihat dan terus membesar. Pada fase keempat, bulan hampir purnama. Sedangkan, pada fase kelima sisi bulan yang menghadap bumi terkena cahaya matahari hingga terlihat keseluruhannya.

Memasuki fase keenam, bagian bulan yang terlihat semakin mengecil. Pada fase ketujuh, bulan hanya terlihat setengah saja. Kemudian fase ke delapan, sama seperti fase kedua, bulan hanya terlihat seperti sabit. Lalu, kembali ke fase bulan baru lagi.

(Baca juga: Bentuk Bulan dan Juga Fasenya, Serta Dampaknya Bagi Manusia)

Sebagaimana dilansir Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG( menyebutkan bahwa dari sejumlah fase Bulan, terdapat empat fase utama, yaitu fase bulan baru, fase setengah purnama awal (perempat pertama), fase purnama, dan fase setengah purnama akhir (perempat akhir).

Periode revolusi Bulan pada bidang orbitnya dihitung dari posisi fase bulan baru ke fase setengah purnama awal ke fase purnama ke fase setengah purnama akhir dan kembali ke fase bulan baru disebut sebagai periode sinodis, yang secara rata-rata ditempuh dalam waktu 29,53059 hari (29 hari 12 jam 44 menit 03 detik).

Bentuk orbit Bulan saat Bulan mengelilingi Bumi adalah ellips. Akibatnya pada suatu saat Bulan akan berada pada posisi terdekat dari Bumi, yang disebut sebagai perige, dan pada saat lain akan berada pada posisi terjauh dari Bumi, yang disebut sebagai apoge. Periode revolusi Bulan pada bidang orbitnya dihitung dari posisi perige ke apoge dan kembali ke perige disebut sebagai periode anomalistik, yang secara rata-rata ditempuh dalam waktu 27,55455 hari (27 hari thirteen jam eighteen menit 33 detik).

Karena lama waktu yang ditempuh Bulan untuk menyelesaikan kedua periode tersebut berbeda, pada suatu saat Bulan akan berada pada fase bulan baru dan posisinya di apoge. Sementara di saat yang lain Bulan akan berada pada fase purnama dan posisinya di perige. Demikian juga hal yang sebaliknya bisa terjadi. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan waktu saat Bulan pada fase tertentu dengan waktu saat posisi Bulan di perige atau apoge.

Please follow and like u.s.:

Mengapa Bentuk Wajah Bulan Sangat Tidak Sama

Source: https://www.kelaspintar.id/blog/inspirasi/kenapa-bentuk-bulan-berubah-ubah-11719/

Artikel Terkait

Leave a Comment