Mengapa Wajah Islam Di Indonesia Berbeda Dengan Timur Tengah

Mengapa Wajah Islam Di Indonesia Berbeda Dengan Timur Tengah.

Islam di Timur Tengah – Pada postingan kali ini, Dunia Sejarah akan share perihal sejarah peradaban Islam di Timur Tengah.Namun sebelum membahas sejarah Islam terlebih dahulu perlu disinggung kondisi sosial bangsa Arab sebelum kedatangan Islam. Hal ini untuk mengetahui latar belakang sosial bangsa Arab ketika Islam datang. Sehingga dengan mudah memperbandingkan antara kondisi Arab sebelum dan sesuadah kedatangan Islam.

Arab Sebelum Kedatangan Islam

Sebelum Islam datang wilayah sekitar semenanjung Arabia di latar belakangi oleh dua imperium, Romawi Timur di sebelah Barat dan imperium Persia di sebelah timur. Wilayah utama Romawi Timur sangat luas meliputi Syiria, Palestina, Mesir, Turki, Asia kecil, dan sebagian kecil Eropa.

Baca juga:
Sejarah Bangsa Arab Sebelum datang Islam

Romawi Timur mengalami puncak kejayaannya setelah masa Konstantin Agung (280-337 M), ketika dipengang oleh Yustinus (483-565 Thou), Di masa ini wilayah terus diperluas; pertanian, perdagangan dan perusahaan maju pesat. Namun karena keinginannya untuk ekspansi, menjadikan imperium ini harus berhadapan dengan imperium Persia, dimana peperangan terus terjadi. Pemerintahan yang kacau, perbudakan tumbuh subur, dan peperangan dengan Persia tidak dapat ia hindari, bahkan ketika Islam datang dan kuat, maka wilayahnya banyak yang masuk ke dalam pemerintahan Islam hingga akhirnya runtuh.

Kristen merupakan salah satu agama besar yang dianut oleh masyarakat imperium Romawi. Meskipun mendapat perlawanan dari berbagai kaisar Romawi, namun masyarakat Kristen mulai menampakan pengaruhnya terhadap Negara yang pada akhirnya agama ini berkembang. Namun, ketika Islam yang baru lahir dan sempat mulain berkembang di romawi, maka Kaisar Konstantin memberikan pengakuan yang sah terhadap agama yang mulai banyak diminati oleh masyarakat dan kemudian dijadikan sebagai agama resmi Negara.

Sementara itu imperium Persia di bagian timur mulai dikenal pada 226 M dengan kaisar Ardesir sebagai pendirinya. Ia mencoba membangun militer yang kuat, dan melakukan ekspansi wilayah. Shapur Agung memimpin (309-379) Persia paling lama dan berhasil secara gemilang, namun ia terlibat peperangan dengan romawi. Kaisar Parwiz (590) merupakan penguasa terakhir yang sejaman dengan Heraclius di Imperium Bizantine. Kekuasaannya sangat absolute, ia mencintai kekuasaan, kemewahan, kekayaan dan istrinya yang beragama Kristen. Ia pernah merobek surat Nabi Muhammad yang dikirim melalui utusannya dan mengusirnya. Pada masa Yazdigard Iii (634-652) kekuasaan Persia baru dapat ditaklukan oleh pasukan Muslim Arab.

Agama bangsa Persia adalah
Zoroaster. Agama ini sangat berpengaruh kepada peradaban dunia dari pada agama-agama kuno lainnya. Ia bukan hanya agama bangsa Persia saja, tetapi juga berpengaruh sebagian ajarannya kepada para pemeluk agama Yahudi dan Nasrani. Namun tidak berpengaruh terhadap kaum Muslim, kecuali sebagian terkecil dari para mu’allaf.

Hubungan antara Imperium Romawi (Bezantine) dengan imperium Persia (Sasania) adalah hubungan relativitas, peperangan demi peperangan terus terjadi di kedua belah pihak. Hingga pasukan kalum muslimin memasuki wilayah-wilayah di bawah kekuasaan kedua imperium itu dan menggantikan kekuasaan yang ada di sana.

Kondisi sosial politik internal wilayah Arabia di masa menjelang kedatangan Islam pada dasarnya terpecah-pecah, tidak mengenal kepemimpinan sentral ataupun persatuan. Kepemimpinan politik di sana didasarkan pada suku-suku atau kabilah-kabilah guna mempertahankan diri dari serangan suku-suku yang lain. Ikatan sosial dibuat berdasarkan hubungan darah dan kepentingan mempertahankan diri.

Kondisi Sosial-Ekonomi

Kondisi alam Arabia gersang dan tandus karena terdiri dari padang pasir dan batu-batuan. Terletak di bagian barat daya Asia. Secara umum iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi. Air merupakan kebutuhan primer yang sulit diperoleh secara melimpah seperti sekarang. Karena itu, pertanian tidak berkembang. Salah satu pencaharian yang mungkin pada saat itu adalah beternak dan berdagang.

Gustave Le Bon menulis dalam bukunya

The Globe of Islamic Civilisation

(1974) bahwa orang-orang Arab pintar berdagang. Sebelum orang-orang Eropa membuka jalur perdagangan keluar, orang-orang Arab telah membuka jalur perdagangan dengan India, Cina, Afrika, dan sebagian Eropa seperti sekarang masuk wilayah Rusia, Swedia dan Denmark. Bahkan setelah Islam menguasai Timur Tengah, perdaganga dikembangkan sampai Coromandel, Malabar, dan Sumatera, melalui Cina dan India. Menurut beberapa teori, karena memanfaatkan jalur dan media perdagangan ini. Bahkan, masuknya Islam ke Republic of indonesia diakui banyak kalangan sejarahwan melalui para pedagang Gujarat di Republic of india, di samping melalui cara-cara yang lain seperti pengajaran oleh para guru sufi dari Arab secara langsung. (Nurhakim Muhammad, 2004:15)

Kondisi Sosial dan Moral

Memang pada dasarnya masyarakat Arab memiliki sejumlah sifat-sifat positif dan kelebihan-kelebihan. Seperti sifat dermawan, pemberani, setia, ramah sederhana, serta cinta kebebesan, ingatannya kuat, dan pandai bersyair.

Kehidupan masyarakat Arab berpindah-pindah dari satu ke lain tempat yang dianggap dapat memberikan kemudahan untuk hidup. Kondisi alam seperti ini membuat mereka bersikap sebagai pemberani dan bersikap keras dalam mempertahankan prinsip dan kepercayaan.

Masa sebelum lahir Islam disebut jaman jahiliah. Kata jahiliah berasal dari kata jahl, tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ilm, melainkan lawan dari hilm, yaitu mereka yang pada saat itu dianggap mengalami kemerosotan moral.

Baca juga:
Arab Pra Islam (Bagian II)

Struktur masyarakat menempatkan perempuan pada posisi yang rendah, tidak diperbolehkan untuk tampil sebagaimana laki-laki, karenanya mereka tidak mempunyai keterampilan-keterampilan dalam sector public seperti memimpin peperangan dan mencari nafkah. Hal ini membuat tradisi menanam anak perempuan yang baru dilahirkan.

Struktur masyarakat Arab pra Islam juga mengikuti sistem perbudakan sebagaimana itu telah menjadi tradisi kuat bangsa-bangsa seluruh dunia saat itu termasuk Yunani yang terkenal sistem perbudakannya itu. Sistem perbudakan berlaku dan berkembang di kalangan bangsa Arab. Mereka dipekerjakan dengan sekehendak majikan, dan diperjual belikan serta ditukar dengan barang sebagai layaknya pedagang melakukan transaksi jual beli secara barter.

Selanjutnya, struktur sosial membedakan kelas papan atas dari kaum bangsawan dengan kelas papan bawah dari rakyat jelata. Diantara dua kelas ini terjadi perbedaan yang sangat tajam sehingga melahirkan jarak dan kerawanan sosial.

Kondisi Sosial-budaya

Salah satu kelebihan bangsa Arab adalah terletak pada bahasanya. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa rumpun yang paling sempurna dan mampu bertahan dari seleksi alam hingga Islam datang, kemudian mengalami perkembangan sangat pesat karenanya. Sehingga, Philip M. Hitti dalam bukunya

A History of the Arabs

memberika penilaian, bahwa keberhasilan penyebaran Islam di antaranya didukung oleh keluasan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab Al-Qur’an (Hitti, 1973).

Sistem Kepercayaan dan Agama

Bangsa Arab pra Islam percaya dan mewarisi mitos-mitos dari nenek moyang yang bertumpu pada sistem kepercayaan watsaniyah (paganisme). Paganisme adalah sebuah kepercayaan/praktik spiritual penyembahan terhadap berhala yang pengikutnya disebut Heathen. Pagan pada zaman kuno percaya bahwa terdapat lebih dari satu dewa dan dewi dan untuk menyembahnya mereka menyembah patung, contoh Mesir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan lain-lain. Seperti kepercayaan terhadap dewa, hantu, roh jahat, azimat, tuah, dan lain sebagainya, di mana hal ini sering disinyalir oleh Al-Qur’an sebagai kemusyrikan. Musyrik menurut syariat Islam adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan apa pun, merupakan kebalikan dari ajaran ketauhidan, yang memiliki arti Mengesakan Allah.

Baca juga:
Arab Pra Islam (Bagian I)

Mayoritas bangsa Arab pra Islam menyembah berhala kecuali para penganut Yahudi dan Nasrani yang jumlahnya kecil. Selain itu mereka menyembah matahari, bintang dan angin. Bahkan terkadang ada yang menyembah batu-batu kecil dan pohon-pohon keramat. Mereka mempunyai berhala-berhala sesembahan, dan yang paling besar lagi terkenal adalah
Lata,
Mana, ‘Uzza
dan
Hubal. Disekeliling ka’bah terdapat sekitar yang amat dilarang dalam Islam. 360 berhala yang setiap tahun mereka kunjungi untuk disembah bersamaan dengan diselenggarakan pecan raya
Ukadz. Namun demikian, di sisi lain terdapat sejumlah orang dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang masih mempertahankan ajaran-ajaran agamanya seperti ajaran tentang ke-Esaan Tuhan (monotheisme).

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah peradaban Islam di Timur Tengah. Semoga dapat menambah khazanah keilmuan kawan-kawan.

Mengapa Wajah Islam Di Indonesia Berbeda Dengan Timur Tengah

Source: https://dunia-sejarahku.blogspot.com/2016/11/sejarah-peradaban-islam-di-timur-tengah.html

Artikel Terkait

Leave a Comment